Arsip Kategori: Biografi angler

Ingin Mancing Mama Blackbass? Simak nih Tips jitu dari Pemegang Rekor IGFA, Jeremiah Micheal

“I Love Indonesia!,” Itulah kalimat pertama yang terucap oleh Angler pemegang rekor International Game Fishing Association (IGFA) untuk kategori spottail bass terberat ini.

Jeremiah Micheal, dialah pria kelahiran Kuala Lumpur yang telah lama menetap di Sarawak, Malaysia. “Saya tinggal 11 tahun di Sarawak Borneo, dan saya sangat senang tinggal di sana. Camping di pinggiran sungai berarus deras adalah  tempat favorit  saya.” Ungkapnya.

Jeremiah Micheal
Jeremiah Micheal

Sejak kecil sudah hobi memancing. Berawal dari asiknya melihat ikan – ikan berenang di kali, Ia bersama saudaranya mencoba memancing menggunakan umpan hidup. “Kami belajar memancing secara natural, otodidak dan ikan gabus kecil adalah spesies pertama yang saya dapatkan dengan menggunakan umpan cacing serta joran kayu”.ujarnya.

Bermodalkan reel BC, Jeremiah berpose dengan monster kerapu
Bermodalkan reel BC, Jeremiah berpose dengan monster kerapu

Hingga beberapa tahun silam ada seorang sahabat yang memperkenalkan pada teknik casting,   yang membuat Ia jatuh cinta pada teknik memancing satu ini. Sekarang  ia sering travel ke berbagai tempat baik dalam negeri  maupun luar negeri untuk memancing dan mempelajari kearifan lokal.

“Indonesia adalah tempat favorit saya untuk memancing,” Ungkap Om Jeremiah dengan semangat. Baginya masih banyak spot – spot memancing di Indonesia yang belum terjamah. Penduduk yang ramah dan bersahabat serta kemampuannya dalam berbahasa indonesia membuatnya mudah beradaptasi dengan masyarakat  setempat.

“Indonesia kaya akan suku bangsa, tiap tempat yang saya datangi memiliki kearifan lokal yang berbeda satu sama lain dan banyak yang tinggal bersama mirip di Malaysia juga.” Tambahnya.

Engineer di salah satu tambang migas ini selalu memanfaatkan liburannya untuk memancing di Indonesia. Species yang selalu menjadi incaran adalah black bass dan spottail bass.

Black bass atau Somasi Hitam memiliki tenaga yang kuat dan seringkali merontokkan lure dan alat pancing, spottail bass (Bonat) termasuk spesies yang cerdik dan memperhitungkan target saat akan menyambar. Spottail bass yang berukuran besar tidak kalah kuatnya dengan black bass.” Jelas Om jeremiah alasan ia memilih target kedua spesies tersebut.

Salah Satu Monster Black Bass yang Berhasil Landed
Salah Satu Monster Black Bass yang Berhasil Landed

Angler pemegang rekor IGFA ini lebih sering menggunakan teknik casting karena membutuhkan cara serta perhatian khusus. “ Jika target kita adalah somasi hitam dan bonat, dibutuhkan waktu 12 jam dalam sehari dari jam lima pagi sampai jam lima sore untuk cast. Kita juga harus mempelajari bagaimana cara untuk beradaptasi dalam menggunakan tiap lure yang berbeda dengan action yang berbeda pula untuk menarik perhatian target. Saya lebih suka lure – lure top water dengan sensasi meledak saat disambar ikan.”Jelasnya.

Trip Papua
Trip Papua

Dalam waktu 1 tahun Om Jeremiah bisa sampai 5 kali mengunjungi indonesia, dalam rentang waktu selama  1 atau 2 minggu.” Saya pergi ke berbagai tempat sendirian, dan selalu mencoba spot-spot baru untuk mencari ikan – ikan monster sambil menikmati  keindahan alam,”  Ujarnya.

Tak tanggung – tanggung, Hampir seluruh kepulauan besar di Indonesia telah disambanginya. Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Sumatera hingga Papua telah ia datangi. Dari sekian banyak spot di Indonesia yang pernah didatanginya, kalimantan tetap menjadi  tempat favorit. “berkemah dan menikmati memancing ikan mahseer di Kalimantan adalah pengalaman tak terlupakan.” Ungkap Om Jeremiah.

Trip Kalimantan bersama Suku Dayak Punan
Trip Kalimantan bersama Suku Dayak Punan

tentang rekor IGFA yang ia peroleh bukanlah sesuatu yang direncanakan, sungguh mengejutkan. Beliau mengatakan,” Saya sama sekali tidak merencanakannya. Ikan pertama yang saya dapatkan tidak bisa diukur karena melebihi kapasitas timbangan pada boga/skala yang saya bawa. Akhirnya saya membeli boga dengan skala 60lbs  kemudian pergi memancing lagi dan akhirnya landed ikan rekor tersebut. Padahal sebenarnya sempat fight dengan ikan yang lebih besar , namun sayangnya tidak berhasil landed. Itulah serunya memancing, selalu saja ada yang lebih mununggumu di sana. Namun yang terpenting adalah menikmati sensasi memancing itu sendiri.” Ungkap Om Jeremiah.

The Record, 46 lbs Spottail Bass

Ikan dengan berat 46 lbs atau sekitar 20,8 Kg mengantarkannya menjadi pemegang rekor spottail bass terberat ke dua di IGFA . Berlokasi di perairan Sulawesi, menggunakan joran megabass dengan line rating 10-25 lbs, PE dengan kekuatan 80lbs, leader 100 lbs, reel Abu Garcia Toro NaCl dan lure fangbait  120 dr Red ia berhasil memenangkan pertarungan sengit tersebut.

Bagi angler nusantara yang penasaran, Om Jeremiah berbagi  tips-tips dalam memancing spesies dengan nama lain ikan Bonat ini. “Ikan Bonat berukuran besar biasanya berada dalam kumpulan dan pelan dalam merespon umpan. Jadi, jika kamu berhasil landed yang berukuran kecil, lempar saja lure ke arah yang sama dengan menggulung pelan.

Spottail bass yang besar biasanya memeriksa dulu sebelum menyambar karena ikan ini sangat cerdik. Mereka bersarang di belakang arus air yang deras dan berbatu atau dibalik akar-akar pepohonan. Ikan rekor yang saya dapatkan berada di bagian hulu sungai yang lebih kecil alirannya namun deras. Kunci keberhasilan dalam mendapatkan Bonat berukuran monster adalah lempar saja lure terus menerus sampai matahari hampir terbenam, hahaha,” Jelasnya panjang lebar.

Tentu para angler juga ingin tahu, bagaimana sih caranya mengklaim rekor ke IGFA?, Simak tips-tips lanjutan Om Jeremiah  Micheal berikut.”Untuk mengklaim rekor kamu harus menjadi anggota IGFA. Bisa jadi anggota seumur hidup ataupun anggota tahunan. Kita diperbolehkan mengklaim record bersamaan dengan mendaftar sebagai member. Staff di IGFA akan membantu dan mengarahkan kita”. Hal lain yang penting untuk dilakukan adalah:

  1. Kirimkan alat timbangan/skala yang kamu gunakan untuk dikalibrasi di IGFA
  2. Video atau foto saat anda memegang danmenimbang ikan tersebut, penimbangan hanya boleh dikakukan di daratan
  3. Kirimkan juga contoh senar dan leader untuk mereka tes
  4. Isi formulir pendataan dan kirimkan detailnya

” Andaikata bisa, saya ingin sekali menetap di di Sulawesi, sayangnya terhalang pekerjaan.” Ucapnya di aksir sesi wawancara.  Ia juga berpesan “Untuk angler –angler di Indonesia, kalian memiliki potongan surga yang diletakkan di bumi, sadarilah hal itu. Nikmatilah sensasi dalam memancing dan stop setrum, bom ikan, serta racun. I Love Indonesia!”

Nah, bagaimana sahabat angler senusantara? Ayo, semangat! Tunjukkan sebagai tuan rumah kita juga bisa membanggakan Indonesia dengan rekor yang lebih tinggi, hargai dan jagalah keindahan alam yang Tuhan titipkan pada bangsa ini. Seperti kata Om Jeremiah, “Jagalah sungai, bumi pertiwi dan laut maka mereka juga akan menjagamu.”

Ngobrol seru pengalaman world class angler – Bang Ocos!

Heri Kurniawan Haeroni, akrab disapa Bang Ocos bukanlah nama baru di dunia mancing indonesia. Pria kelahiran Pontianak 1979 ini mengaku sudah sejak usia 6 tahun kenal mancing.”Ibu dan bapak saya suka mancing, waktu masa kecil mereka dan saya tinggal dekat sungai – dimana hampir setiap hari saya main di sungai”, Ungkap Bang Ocos.

umpan buzzbait

Bang Ocos - Spesialis Ikan Tapah
Bang Ocos – Spesialis Ikan Tapah

Angler yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara di Dinas Perhubungan Kabupaten Kubu Raya ini bisa dibilang orang pertama yang menggunakan teknik casting menggunakan set baitcasting di kalimantan barat. Beliau menjelaskan,“Mulai tahun 2005 saat kerja di jakarta gara-gara lihat orang casting di tambak barramundi. Saat itu saya di tambak bandeng sebelahnya. Bingung liat orang sendirian mancing pake lempar-lempar. Kemudian karena penasaran saya datangi dan nanya-nanya. Akhirnya jadi kenal dan belajar langsung disitu.Ikan pertama saya barramundi dan gara-gara itu langsung keracunan casting. Walau mancing di tambak bagi saya seru sekali teknik casting ini”.

Setelah 2 tahun mendalami teknik casting, tahun 2007 akhirnya beliau resign dari pekerjaannya di Jakarta dan kembali ke tanah kelahirannya di Pontianak. Nah, di Pontianak-lah ilmu castingnya berkembang karena spot saat itu mewah sekali dan cuma ia satu-satunya yang casting disana. Sebagai baitcaster pertama di kampung halaman, Bang Ocos mulai menularkan ilmu casting kepada kawan-kawannya. Namun pada saat itu sudah ada satu orang yang mulai casting di kalbar yang ia ketahui.”Tapi ada orang lain di kalbar yg sudah duluan memulai namun beda kota dan dia hanya mancing di air asin sedangkan saya fokus di air tawar. Orang itu saya bilang juga guru saya sebagai inspirasi walau beda kota. Asalnya dari singkawang. Namanya aphen. Saya juga belajar banyak dari dia. Namun pengembangan ilmu berbeda arah. Karena saya fokus di baitcasting freshwater tapi dia spinning saltwater,” Ungkap Bang Ocos.

Strike ikan langka - Arwana
Strike ikan langka – Arwana

Baginya, memancing di saat teknik casting baru mulai dikenal tidaklah semudah sekarang. “Dulu nyari lure ampe import. Di toko semua lure model trolling laut, gak cocok buat casting-apalagi piranti, nangis nyari buat casting. Ga ada jual, semua model spinning. Baitcasting ga ada jual dan kalo ada pun pasti handle kanan”.

Namun, Ia tidak menyerah. Majalah mancing dari Malaysia ia jadikan pedoman, bahkan set tackle sering import dari negeri Jiran.” Majalah sirip Malaysia juga salah satu sumber referensi yang saya gunakan untuk belajar karena pada waktu itu saya kurang familiar dengan internet”. Bang Ocos juga mengaku bahwa Malaysia memang lebih maju dunia mancingnya ketimbang Indonesia, bisa dibilang 5 tahun lebih maju.

Hebatnya, di tengah sulitnya mencari set tackle baitcasting di indonesia, Bang Ocos malah go internasional. tak tanggung, pabrikan joran dan lure ternama menggandengnya sebagai pro staff dan tester field. “Pertama saya dulu sangat gila dengan mancing, tiap minggu pasti mancing dan waktu itu saya banyak melihat foto-foto keren di majalah mancing.

Saya berusaha meniru gaya mereka dan mencoba memancing berbagai jenis ikan dengan teknik casting. Foto-foto itu saya posting di sosial media dan menarik minat pabrikan untuk bekerjasama dengan saya hingga akhirnya mendapat sponsorship. Kedua, saya pernah membuat video pendek tentang pengalaman mancing saya di taman nasional danau sentarum yang di upload ke youtube dimana banyak sekali saya memperkenalkan daerah saya sebagai destinasi mancing freshwater terutama species ikan yg endemik disini. Akhirnya produser film mancing dari malaysia berminat syuting disana bersama saya.

Even internasional
Even internasional

Selain masuk majalah, video mancing saya menjadi terkenal hingga banyak pemancing asing yg tertarik datang”. Jelas bang ocos awal mula sponsor tertarik padanya. “Publikasi dan rajinnya posting foto-foto ikan yg bagus itulah awal pabrikan melirik saya untuk bekerjasama dgn mereka. Selain mendapat gaji juga fasilitas yang cukup membantu saya dalam hobi ini. Tambah Bang Ocos.

Selain disponsori oleh pihak pabrikan tersebut, angler spesialis ikan tapah ini juga sering syuting film mancing – baik dari stasiun tv dalam negeri maupun luar negeri. “Film pertama saya adalah petualangan mancing ikan Kerandang yang saat itu orang luar negeri sama sekali tidak tau sama ikan ini. Film dibuat oleh Kingfisher Malaysia dan diterbitkan bersama majalah sirip Malaysia.

Film kedua adalah episode Mancing Mania Trans 7. Film ke 3 adalah kerjasama saya bersama National Geographic membuat film tentang ikan tapah. Film ke 4 adalah kerjasama saya dengan produser dari Italia membuat cerita petualangan mancing toman di pedalaman kalimantan yg ditayangkan di Italia. Film ke 5 saya bekerjasama dengan NHK Jepang juga membuat petualangan mancing mencari ikan tapah. Dan yang terakhir Rod and Line Magazine bekerjasama dengan sponsor membuat film mancing mengenai produk testing di danau Sentarum. Khusus di film National Geographic saya tidak tampil langsung tapi sebagai fishing advisor dan local event organizer dan translator”. Ungkap Bang Ocos.

Tak cukup dengan prestasi-prestasi di atas, beliau juga sudah dua kali turut serta dalam turnamen mancing Internasional. Semuanya disponsori alias gratis. Bang Ocos menambahkan, “Untuk even internasional saya dua kali ikut kompetisi. Pertama di Malaysia – kompetisi mancing toman, dan tahun lalu di China, di even China Kayak Fishing Open Tournament. Semua trip saya dibiayai oleh sponsor saya. Jadi saya duduk manis saja”. tuturnya.

Even China Kayak Fishing Tournament
Even China Kayak Fishing Tournament

Angler profesional yang low profile ini memiliki banyak teman mancing. Namun ada satu angler sohib yang sering casting bareng dengannya. Adrian armanto, angler caster yang juga asal pontianak ini menceritakan awal kenalnya dengan Bang Ocos. “Saya kenal sejak 2011, awalnya saya inbox di FB karena saya liat FB Bang Ocos ikannya oke oke. kebetulan saya kuliah di Australia jadi gak bisa ketemu langsung. Baru pas balik liburan saya bisa trip bareng bang ocos”, jelas Om Adrian.

Angler yang pernah menjajal monster di sungai Amazon Brazil ini menceritakan pertamakali diajak bang ocos casting tembiring. Menurut dia Bang Ocos adalah sosok yang asik diajak bergaul, tidak pelit ilmu namun sangat tegas, terutama untuk angler pemula agar selalu safety dan tetap fokus. “No hard feelings”, baginya semua itu demi kebaikan. Om Adrian menambahkan, “sebagai angler caster pertama di sini, Bang Ocos merupakan sosok yang memiliki kontribusi besar bagi dunia casting, khususnya di kalimantan barat”.

Adrian armanto
Adrian armanto

Sebagai sahabat yang sering casting bareng sudah tentu ada pengalaman menarik yang terjadi. Om Adrian tak pernah lupa atas kenangan mengusik jiwa yang pernah ia alami bersama Bang Ocos. “Pernah di salah satu trip kami kehujanan, tiba tiba kapal nabrak kayu dan Bang Ocos kecebur ke sungai. lucunya, saat mau ditolong dianya malah bilang ‘gw gak usah ditolong, tackle gw simpenin dulu!” Ungkap Om Adrian.

Seperti yang dikatakan sahabatnya, angler yang tak pernah pelit ilmu ini menjelaskan tips-tips bagi para angler pemula yang ingin mengikuti jejak beliau. “ Gak ada yang aneh-aneh cukup mau berusaha maju, mau belajar dan menguasai apa yang orang lain tidak kuasai. ‘Kebetulan saya spesialis mancing ikan tapah dan ikan ini sangat terkenal sebagai ikan air tawar terbesar di Kalimantan, namun ga banyak orang paham cara mancing ikan ini dengan menggunakan lure. Saya pikir apabila saya sama seperti orang lain yg lebih suka mancing ikan yg gampang dipancing saya ga ada bedanya sama mereka dan saya harus menguasai teknik yang sulit ini karena ikan tapah bukan ikan yg gampang dipancing dengan lure. Setelah belajar terus menerus akhirnya saya bisa. Saya buktikan dgn konsisten sering mancing dan sering dapat. Disitu orang akan melihat perbedaan saya dengan pemancing lainnya”. Ungkap Bang Ocos.

kaos mancing, kaos mancing mania, kaos mancing mania lengan panjang, kaos mancing shimano, spotmancing apparel

Selama 13 tahun mendalami teknik casting sudah tak terhitung jumlah spesies ikan yang berhasil ia daratkan. Dari sekian banyak spesies, Bang Ocos menyampaikan spesies yang terhitung paling prestisius selama ia memancing adalah ikan arwana dan blackbass. Alasannya , “untuk arwana karena sudah langka, sedangkan blackbass karena saya harus pergi ke kalimantan utara untuk mancing ikan ini dan juga blackbass adalah ikan air tawar terkuat yg pernah saya hadapi. Jenis Blackbass yg saya pancing adalah blackbass air tawar yang hidup di sungai arung jeram”. 11 kg, itulah rekor blackbass yang berhasil ia taklukan. Namun, Angler yang fasih berbahasa inggris ini mengungkapkan masih ada spesies yang menjadi incarannya. “Saya ingin menambah koleksi ikan yang belum saya dapatkan dengan teknik casting yaitu tigerfish atau tigerdatz dan bagarius catfish juga jenis kaloi merah arus deras. Tiga jenis ikan itu masih dalam list target saya yang belum saya dapatkan dengan teknik casting”.

Go internasional sudah, nasional apalagi, Pro Staff brand ternama sudah, digaji dari hobi sudah. Ternyata masih ada hal yang ingin ia capai dalam dunia mancing.”Saya belum jajal mancing kelas berat di laut, Untuk freshwater saya rasa sudah banyak pencapaian yang didapat namun di laut saya masih banyak kekurangannya”.

bang Ocos dengan strike monster blackbass

Di akhir wawancara, Angler yang juga admin di sebuah grup mancing besar di FB ini mengungkapkan keluh kesahnya tentang dunia mancing Nusantara. “Saya lihat angler sekarang banyak sekali masih berpikir mancing buat konsumsi dan kurang peduli dengan lingkungan. Maunya selalu dapat dan menguras spot mancing sampai ikannya habis. Bukan mancing buat hobi murni. Juga kelemahan berbahasa asing sehingga terasing dari pergaulan internasional. Merasa rendah diri dengan angler luar negeri. Menganggap di negara lain itu mancing lebih hebat tapi justru saya sendiri merasakan orang asing berlomba-lomba mancing disini demi target ikan impian.

Kelemahan kita disini hobi mancing belum dianggap sebagai sebuah aktivitas yang mendatangkan devisa. Padahal wisata mancing dan kekayaan alam kita sangat mendukung untuk itu. Ditambah kurangnya perhatian pemerintah dalam penerapan aturan hukum mengenai lingkungan dimana banyak lokasi-lokasi mancing yang bagus harus hancur akibat illegal Fishing, eksploitasi massif oleh industri seperti pertambangan, logging dan sawit”.

Wah, seru juga ngobrol bareng Bang Ocos, semoga menginspirasi kita semua…Terima kasih banyak Bang Heri Kurniawan Haeroni, Semoga makin banyak angler Indonesia yang mengikuti jejak beliau. Maju terus angler Nusantara!

 

Sosok pemersatu itu bernama Achmadi NA !

Bagi penggemar sportfishing di tanah air, pasti sudah tidak asing dengan sosok Achmadi Na. Pria paruh baya bertubuh tinggi besar ini, jadi sosok panutan bagi angler nusantara. Passion serta visi nya yang tinggi di dunia mancing menjadikannya cukup di “tua” kan di kalangan angler nusantara.

Kontributor spotmancing.com merasa beruntung bisa mewawancarai secara langsung tokoh asal tanah Borneo ini.  Disela kegiatannya yang padat, Ia bertutur tentang masa kecilnya, keluarga, serta visi misinya di dunia mancing. Yuk kita simak langsung liputannya!

Terlahir di kota Banjarmasin 21 Mei 1962, Achmadi kecil tumbuh berkembang di keluarga seorang polisi – Nazirin Abdullah. Tambahan nama NA di belakang namanya, merupakan singkatan nama Ayahnya.

Masa kecil Pak Achmadi – begitu Ia biasa dipanggil, dilalui di Asrama Polisi Honggo Pranoto – di pusat Kota Pontianak. Disiplin asrama kepolisian yang kuat, rupanya membekas dan membangun karakter kepribadian suami dari Puji Astuti Agustina ini.

Kesetiaan pada dunia mancing diawali saat Ia menginjak usia 8 tahun, ketika diajak pertamakali oleh ayahnya. Spot pertama yang Ia kunjungi adalah area hutan Sei. Raya. Masih segar teringat di ingatan Achmadi rasa adrenalin yang mengalir deras saat berhasil strike.

Berburu ikan hingga pedalaman

“Senang bukan main hati saya!”, tutur pria berkacamata tersebut. Sejak itu – bermodalkan piranti Tegek sederhana, Achmadi kecil selalu bersemangat apabila sang ayah mengajaknya pergi memancing. “Hasil tangkapan lalu dibawa ke rumah untuk disantap bersama keluarga, bangga sekali rasanya,…”, tutur kakek satu cucu ini.

Seiring waktu, sejalan dengan perkembangan teknologi industri mancing, Achmadi pun mengembangkan teknik memancing modern seperti casting, jigging, atau popping. Pengalamannya pun bertambah dengan beragam koleksi strike predator di perairan tawar seperti blackbass, mahseer, atau ikan-ikan pemangsa di lautan.

Saat ditanya teknik apa yang paling digemari, dengan lugas Achmadi menjawab, casting dan tegeg. “Walaupun teknik mancing sudah modern, saya tetap merasa nyaman mancing dengan kedua teknik ini, tentunya sambil menikmati damainya belantara hutan, dan yang penting bisa mengetahui secara langsung keberadaan ikan-ikan langka”, jelas pengusaha ekspedisi ini.

Berbicara tentang dunia mancing Pak Achmadi, rupanya tak lepas dari dukungan sang Istri. Kemana pun Ia memancing, maka dipastikan istri tercinta, turut. “Ya awalnya dia gak suka mancing sih, tapi sekali waktu kami mancing galatama, istri saya ingin coba-coba terus pegang joran, akhirnya saya bukain lapak sendiri, dan eeh,..ternyata dia enjoy,…he he..”, Kenang warga Bogor ini. Sejak saat itu Bu Puji – demikian para angler biasa menyapa, mulai gemar memancing dan ikut serta berburu ikan – baik di pemancingan kolam, laut, dan bahkan kini di alam liar.

Hingga kini pasangan Pak Achmadi – Puji Astuti Agustina dikaruniai 5 orang putra dan putri, yaitu Robby Sudiyono, Wahyu Sudiyanto, Afrilian Rachmawati, Indah Feliana, Farrah Yashinta, Najwa Nabillah, dan cucu semata wayangnya: Muhammad Zhafran Arayuna.

Tidak hanya pada sang istri, kegemaran berburu ikan pun dirasakan buah hatinya. ” Putera pertama, kedua dan yang bungsu suka sekali mancing. Yang nomor 3 dan 4 kutu buku, dan yang nomor 5 suka dengan senapan” terangnya.

Achmadi bersama keluarga tercinta

Passion menancang ikan yang kuat pada diri pembina Forum Castinger Indonesia (FORCASI) ini, rupanya telah melahirkan beragam kontribusi penting untuk kemajuan dunia mancing di tanah air. Ia rajin menggalang silaturahmi dengan beragam komunitas mancing – mulai di ibu kota hingga di pelosok daerah.

Lewat organisasi FORCASI – bersama jajaran pengurus, telah banyak melahirkan even prestisius skala nasional. Salah satunya yaitu Kopdar Castinger Indonesia yang dihelat setiap tahun.

FORCASI

Seorang sahabat karib, Adhi joranliar Fatah mengungkapkan bahwa Ahmadi bisa dikatakan sebagai tokoh pemersatu diantara para pemancing – khususnya castinger. “Orangnya humoris sejati, tegas tapi mudah tersentuh juga. Jika ada masalah diantara para angler beliau aktif mendamaikan dengan duduk bersama”, Kata Adhi.

Menurut Adhi, lelaki tinggi besar itu juga sosok yang banyak membantu teman-teman pemancing saat berada dalam kesulitan, contoh nya saat proses pencarian KM Hujan Labek yang tenggelam membawa pemancing pada tahun 2015 lalu. Ia bersusah payah mencari bantuan hingga berhasil menggalang 3 armada KRI untuk membantu proses pencarian. “Beliau care, low profile, dan konstruktif”, ucap Adhi.

Bersama sahabat

Di ujung obrolan, Pak Achmadi lalu mengungkapkan mimpinya di dunia mancing. Bersama teman-teman Ia ingin mewujudkan Indonesia sebagai destinasi favorit bagi Angler dalam dan luar negeri, dengan menggalang pariwisata khususnya dibidang memancing. “Karena itu, alam yang lestari jadi kewajiban kita semua untuk mewujudkannya,” kata Achmadi

Wah seru juga ngobrol panjang lebar dengan Pak Achmadi. Pembawaannya yang ramah membuat spotmancing.com merasa betah tukar fikiran berlama-lama. Tapi sebelum berpisah Pak Achmadi menitip pesan penting – khususnya angler yang masih muda-muda. Ia berpesan, agar kita sebagai pemancing tetap mengutamakan keluarga menjadi nomer satu. Selain itu juga Ia berharap agar para pemancing ikut memberikan sumbangsihnya dalam pelestarian lingkungan, dan mensosialisasikan bahaya strum dan racun ikan. “Jika tidak dimulai dari diri kita sendiri,  lalu mau mancing dimana anak cucu kita kelak!” Tutup Achmadi.

Spotmancing.com sendiri melihat sosok Pak Achmadi sebagai pribadi yang penuh energi. Khususnya jika bicara tentang mancing. Passion nya yang kuat telah membawanya melintasi sekat-sekat pemisah diantara pemancing, hingga layak dikatakan sebagai pemersatu castinger Indonesia. Semoga banyak penerusnya yaa,….Takzim buat Pak Achmadi Na! hehe…