Spot liar di Limau (panoramio.com)

Limau : Rasakan Tarikan Gabus di Spot Liar Ini !

Mancing ikan di spot liar semacam rawa-rawa itu, memang tak mudah. Namun, kondisi tersebut jadi tantangan seru untuk terus melawan tenaga sekelas Gabus yang cukup kuat dan lincah. Seluruh rintangan di spot akan terbayarkan, ketika sanggup mendaratkan predator tawar ini ke darat.

Limau – Kalimantan Utara, adalah satu dari sedikit lokasi mancing yang masih terjaga kealamiannya. Kondisi di sekitaran spot nya dapat dikatakan masih natural, dimana banyak rerumputan yang mengelilingi tepiannya, serta terdapat batang-batang pohon yang terendam di dalam air, layaknya rawa liar yang tak terawat. Tak pelak, Kuncoro Yekti pun harus melakukan taktik yang jitu, agar keranjang ikannya bisa dipenuhi oleh beberapa ekor gabus segar.

“Spot Limau ini selalu bikin saya penasaran sama gabusnya, apalagi populasinya sangat baik. Jadi, kalau datang kesini harus bisa bawa pulang snakehead tersebut,” terang angler yang biasa disapa Om Kun ini. Selain itu alam perkampungan yang berada di sekitaran spot nya serta pepohonan yang rindang, makin membuatnya nyaman untuk berlama-lama mancing. “Saya suka sama suasananya, bikin betah. Aroma pedesaannya masih kentara dan alami,” sambungnya.

Spot liar di Limau (panoramio.com)
Spot liar di Limau (panoramio.com)

Diluar ikan gabus, spot Limau dipenuhi oleh jenis ikan lainnya pula. Iwak semacam nila, sepat, pepuyu, hingga lele bisa didapatkan. Ukurannya pun lumayan besar untuk sekelas ikan yang hidup di fresh water. Namun, tarikan gabus di spot ini, layak angler coba. Apalagi rawa-rawanya sangatlah menantang. Selain sebagian spot nya dipenuhi oleh lumpur, airnya pun cenderung keruh. Kondisi ini memang umum terjadi, karena ikan seperti gabus, senang hidup di perairan semacam itu. “Mancing gabus, yaa..spotnya seperti ini. Tapi bagi saya pribadi, sensasi mancing disini sangatlah menggugah dan butuh ketelatenan,” ujarnya.

Angler asli kota Samarinda inipun memberi saran, jika ingin bawa pulang gabus dengan size yang oke, sebaiknya kunjungan ke spot ini dilakukan pada bulan September hingga Desember, karena pada saat itu indukan gabus banyak yang memijah. Tak pelak, pada musim-musim seperti itu, spot Limau pun dipenuhi oleh ikan licingan—nama lainnya— ini. “Naah, pada saat inilah saya akan temukan gabus, karena banyak yang keluar dari sarangnya,” terang pria yang aktif di komunitas Nunukangler ini.

Rod kelas medium 180 – 210 sentimeter, reel baitcasting dan spining kelas 500-4000 serta line monofilament 10-20 lbs atau pun jenis pe 1-2 menjadi set tackle yang seringkali ia gunakan untuk nancang gabus di Limau. “Saya harus bawa peralatan mancing yang terbaik, apalagi gigi ikan ini tajam-tajam,” ucapnya. Namun, jika hanya mengandalkan set tackle yang bagus saja, belum cukup untuk membuat gabus menyerah.

Di spot ini banyak gabusnya (dok.pribadi Kuncoro)
Di spot ini banyak gabusnya (dok.pribadi Kuncoro)

Ia pun harus meladeni pergerakan gabus dengan teknik yang mampu mengendalikan iwak yang banyak menyebar di perairan Asia Tenggara itu. “ Mancing pakai teknik dasaran, casting, hingga ngoncer semuanya pernah saya coba dan menurut saya cocok untuk kondisi spot nya,” jelasnya. Untuk memaksimalkan teknik yang digunakan, ia pun menyiapkan umpan yang manjur. Jika teknik casting yang ia gunakan, umpan semacam soft atau hard froggy, softlure, spiner, buzzbait, hingga popper ia bawa ke spot ini. Sementara belalang, jangkrik, anak ikan, hingga ulat daun pisang ia tancapkan di kail saat mancing dengan teknik dasaran. “Untuk mancing dasaran saya usahakan semua umpan dalam kondisi hidup,” sebutnya. Pantas saja, dengan menyiapkan umpan yang lengkap, ia pun bisa strike gabus beberapa ekor. “Terakhir sekitar 1 minggu lalu, rata-rata beratnya hampir setengah kilo,” ujarnya lagi.

Om Kun dan hasil tarikannya (dok.pribadi Kuncoro)
Om Kun dan hasil tarikannya (dok.pribadi Kuncoro)

Memang, dibutuhkan kecerdikan untuk mengangkat gabus di Limau ini, apalagi spot nya cukup luas. Menurut Om Kun, gabus ini memiliki karakter layaknya predator penyergap yang berani bertarung, sehingga apabila ada makanan lewat di depan mulutnya, snakehead ini langsung bergerak cepat. Lebih menyulitkan lagi, ketika  gabus makan umpan yang ia berikan, akan berusaha kabur ke batang kayu ataupun rerumputan di sekitaran spot Limau ini. “Saya harus sigap mengendalikan geraknya, supaya senar sama kail ngga tersangkut batang-batang kayu itu,” terangnya. “Kalau sudah gini, saya langsung tarik ulur saja, untuk menghindari senar putus,” timpalnya lagi.

Dikutip dari wikipedia, bahwa pergerakan gabus terbilang unik. Ikan air tawar ini, seringkali terbawa banjir ke selokan di sekitar rumah, atau memasuki kolam-kolam pemeliharaan ikan dan menjadi hama yang memangsa ikan-ikan peliharaan di sana. Jika sawah, kolam atau parit mengering, ikan ini akan berupaya pindah ke tempat lain, atau bila terpaksa, akan mengubur diri di dalam lumpur hingga tempat itu kembali berair. Oleh sebab itu ikan ini acap kali ditemui ‘berjalan’ di daratan, khususnya di malam hari di musim kemarau, mencari tempat lain yang masih berair. Fenomena ini adalah karena gabus memiliki kemampuan bernapas langsung dari udara, dengan menggunakan semacam organ labirin, seperti pada ikan lele atau betok, namun lebih primitif.

Spot Limau masih liar dan penuh tantangan (dok.pribadi Kuncoro)
Spot Limau masih liar dan penuh tantangan (dok.pribadi Kuncoro)
Komunitas Nunukangler (dok.pribadi Kuncoro)
Komunitas Nunukangler (dok.pribadi Kuncoro)

Spot Limau berada di Kelurahan Nunukan Selatan, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara. Ada dua pendaratan pesawat yang bisa dipilih angler. Pertama, jika ingin menikmati dahulu kota Tarakan, angler bisa mendarat di Bandara Internasional Juwata. Dari kota ini, angler kembali menggunakan pesawat terbang menuju Bandara Nunukan dengan waktu tempuh sekira 20 menit, atau menggunakan Speed Boat dengan waktu tempuh yang lebih lama, sekira 2,5 jam.

Kedua, angler bisa langsung landing di Bandara Nunukan menggunakan maskapai penerbangan Garuda Indonesia, Lion Air ataupun Batik Air. Angler tinggal cari dan pilih saja rute keberangkatannya. Setelah sampai di Nunukan, angler bisa memilih moda transportasi darat, seperti taksi, angkutan umum hingga ojek. “Spot ini masih di daerah kota ngga lebih dari setengah jam dari bandara.  Tepatnya di jalan Ujang Dewa,” jelasnya. Artinya, untuk mencari penginapan dan tempat makan pun, tak sulit angler peroleh.

Angler ingin rasakan tarikan gabus di spot Limau? Untuk informasi lebih lanjut, silahkan hubungi rekan kita Kuncoro Yekti via akun Facebook nya atau ke nomor 0812 5833 648.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *