Seberapa tepat prakiraan BMKG atas kondisi perairan laut? Ini itung-itungannya….

Sampai seberapa sebenarnya tingkat akurasi prakiraan tinggi gelombang, arah angin dan kekuatannya, serta prakiraan cuaca pada umumnya yang diumumkan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG)? Pertanyaan ini mengemuka ketika kadang kala para angler atau pemancing pengguna data prakiraan yang dikeluarkan BMKG tidak menjumpai kondisi yang sama di lapangan. Pertanyaan berikutnya, tentu saja, adalah seberapa besar kredibilitas prakiraan kondisi MKG yang dikeluarkan BMKG tersebut.

Berdasarkan peralatan yang dipakai dan juga kecermatan penghitungan oleh manusia di belakang peralatan tersebut, jelas tidak ada tingkat keakuratan ramalan cuaca dan iklan yang mencapai 100%.

“Tidak ada lembaga dunia yang dapat mencapai tingkat akurasi pengamatan dan prakiraan dengan prosentase 100 persen. Kalau kita mencapai 80 persen sampai 85 persen sudah baik,” demikian dikatakan Kepala BMKG yang juga Presiden WMO Regional V, Dr. Andi Eka Sakya, dalam siaran pers yang dikeluarkan BMKG.

Hal itu disampaikannya berkaitan dengan tenggelamnya Kapal KM Marina pada 19 Desember 2016 di perairan Teluk Bone Sulawesi Selatan. Saat itu, katanya, BMKG telah memberikan informasi kondisi cuaca dan  ketinggian gelombang laut kepada stakeholders. “Dari informasi tersebut kita telah  mengetahui ketinggian gelombang di wilayah perairan teluk Bone. Tak hanya itu, stasiun meteorologi maritim di Paotere Makassar pun telah menyampaikan informasi dan update informasi ketinggian gelombang kepada stakeholders, bahkan 1 hari sebelumnya hingga 1 minggu kedepan.”

Hal ini dia sampaikan pada saat memberikan klarifikasi tenggelamnya kapal KM Marina kepada wartawan Jawa Pos, Saudara Hilmi didampingi Kepala Biro Hukum dan Organisasi yang membawahi Bagian Humas, Wahju Adjie H, SH, DESS, dan Kasubag Hubungan Pers dan Media, Taufan Maulana.

“Selain memberikan informasi maritim untuk seminggu kedepan, kita juga update informasi tersebut di website kami (www.bmkg.go.id atau web.meteo.bmkg.go.id),  hal ini kita lakukan untuk menyediakan informasi guna kepentingan keselamatan transportasi di darat, laut, maupun udara. Kita juga update informasi cuaca saat atau setelah kecelakaan terjadi,`imbuh Kepala BMKG. Informasi tersebut diigunakan untuk membantu tim KNKT dan Basarnas untuk melakukan proses investigasi kecelakaan dan evakuasi.”

Kepala BMKG menambahkan Stasiun Meteorologi Maritim telah melakukan tugas dan tanggungjawabnya untuk memberikan informasi dan update ketinggian gelombang kepada para stakeholders, untuk dijadikan pedoman apakah suatu kapal mendapatkan persetujuan untuk berlayar apa tidak, dimana yang memiliki kewenangan terhadap hal tersebut adalah Syahbandar pada Unit Pengelola Pelabuhan Kolaka, Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan RI.

Berdasarkan data satelit bahwa tinggi gelombang laut pada 19 Desember 2015 jam 07.00 hingga 19.00 tinggi gelombang di sekitar lokasi kecelakaan 0.5-1.5 m (kategori rendah-sedang). Sementara di sekitar lokasi kejadian kecelakaan kapal, kondisi cuaca berawan banyak dan kecepatan angin 27-45 km/jam (kategori sedang-sangat kencang) dari Barat-Barat Laut. Kondisi awan banyak ini berpotensi terjadi gelombang maksimum mencapai tiga meter.

Dalam kaitan itulah dia menyatakan tidak ada lembaga dunia yang dapat mencapai tingkat akurasi pengamatan dan prakiraan dengan prosentase 100 persen. “Kalau kita mencapai 80 persen sampai 85 persen sudah baik,” tegasnya.

Soal peralatan dan forecaster

Pada suatu kesempatan, Andi Eka pernah mengakui bahwa prakiraan cuacanya saat ini memang masih kurang akurat. “Memang kita akui masih kurang,” kata Andi Eka Sakya, Kepala BMKG, seperti dikutip Kompas.com.

“Kita akan terus tingkatkan akurasinya dari sisi peralatan dan sumber daya manusianya, dalam hal ini forecaster-nya,” imbuhnya.

Andi mengatakan, kurang akuratnya prakiraan cuaca memang dipengaruhi oleh kondisi cuaca yang dinamis. Menurut Andi, masih kurang akuratnya prakiraan cuaca dihadapi oleh lembaga serupa yang ada di dunia. “Termasuk di Amerika. Saat ini, berdasarkan survei, akurasi kami 60 – 70 persen. Di Amerika 80 – 85 persen. Jadi memang tidak ada yang 100 persen akurat,” ungkapnya.

Thomas Djamaluddin yang membawahkan Pusat Sains Atmosfer Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) mengakui sulitnya memprediksi cuaca. “Kondisi yang kita prakirakan kadang sangat general. Padahal cuaca sangat dipengaruhi faktor lokal,” ungkapnya.

Meski demikian, ia mengatakan tetap perlunya meningkatkan akurasi prakiraan cuaca sehingga tumbuh kepercayaan dari masyarakat.

Bagaimana angler?

Para angler, demikianlah paparan dari BMKG yang bisa menjadi pedoman kita dalam mencermati prakiraan tinggi gelombang laut, arah dan kekuatan arus laut serta arah dan kekuatan angin. Artinya, meski kita tidak bisa 100% percaya pada prakiraan BMKG, tetapi akurasi sampai 80% saja sudah akan sangat membantu kita mempersiapkan segala sesuatunya ketika berangkat mancing, atau bahkan untuk membuat keputusan apakah kita akan berangkat mancing atau tidak pada suatu waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *